berita


[Assikalaibineng, kamasutra versi bugis (6-selesai)]

Tribun Timur | Kamis, 22 Januari 2009 | 00:52 WITA

TEKNIK bertahan dalam persetubvuhan menjadi hal yang sangat penting dan mendapat tempat khusus dalam Assikalaibineng. Dan sekali lagi, pihak suami menjadi faktor kunci.

Kitab peretubuhan Bugis ini tahu betul bahwa pihak suami senantiasa lebih cepat menyelesaikan hubungan ketimbang perempuan. Menenangkan diri, sabar, konsentrasi, dan memulai dengan kalimat taksim amat disarankan sebelum foreplay.
Manuskrip Assikalaibineng amat mementingkan kualitas hubungan badan ketimbang frequensi atau multiorgasme. Assikalaibineng adalah ilmu menahan nafsu, melatih jiwa untuk tetap konsentrasi dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu.

(more…)

Tribun Timur | Kamis, 22 Januari 2009 | 15:09 WITA

Makassar, Tribun – Heboh buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis berimbas ke Toko Buku Gramedia Panakkukang, Makassar, Kamis (22/1).

“Luar biasa. Kami baru buka toko, dalam 30 menit pertama, sudah laris 10 buku,. Hingga pukul 1 siang, sudah 20 buku,” kata Store Manager Toko Buku Gramedia Yohannes Beda kepada Tribun.

Gramedia sendiri sudah mulai memasarkan buku ini sejak dua hari lalu. Namun permintaan atas buku itu sudah terjadi sejak sepekan lalu. (more…)

[Diprediksi Jadi Best Seller di Toko Buku Gramedia Mal Panakkukang dan MaRI]

Tribun Timur |  Kamis, 22 Januari 2009 | 02:26 WITA

ANIMO warga Kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan untuk memiliki buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis, yang diterbitkan Ininnawa sangat tinggi. Buku karya Muhlis Hadrawi ini resmi merambah toko-toko buku di kota ini termasuk di Gramedia Mal Panakkukang dan Mal Ratu Indah (MaRI), Selasa (20/1).

“Kami sudah jual sejak kemarin (Selasa, 20/1). Baru masuk langsung laku lima belas. Kami saat ini hanya memiliki stok terbatas. Kondisi terakhirnya belum saya cek, tidak menutup kemungkinan besok (hari ini) sudah ludes,” kata Store Manager Gramedia Mal Panakkunang Yohanes Beda, Rabu (21/1). (more…)

Tribun Timur | Jumat, 23 Januari 2009 | 01:12 WITA

Buku Assikalaibineng bukalah Herry Potter. Penulisnya pun bukan JK Rowling, namun Muhlias Hadrawi, seorang pria Bugis yang baru saja merampungkan pendidikan magisternya (S2) di Universitas Indonesia (UI).

Namun buku yang mengulas persetubuhan cara Bugis ini mampu “menyihir”.  Heboh buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis juga berimbas ke Toko Buku Gramedia Panakkukang, Makassar, Kamis (22/1).
“Luar biasa. Kami baru buka toko, dalam 30 menit pertama, sudah laris 10 buku,. Hingga pukul 13.00 wita, sudah 20 buku yang terjual,” kata Store Manager Toko Buku Gramedia Yohannes Beda kepada Tribun. (more…)

Aslan Abidin|Bahaya Laten Malam Pengantin|Makassar; Penerbit Ininnawa, Juni 2008|114+xv hlm;

Di tengah banjir karya yang merayakan seksualitas sekadar untuk sensasi, bagi saya puisi-puisi Aslan Abidin terasa sangat menyegarkan. Berbeda dengan kebanyakan karya sastra lain maupun bacaan populer di Indonesia, karya Aslan tidak menyampaikan nilai moral tunggal, entah pesan bahwa seksualitas harus dibebaskan, atau sebaliknya harus dikekang. Dalam puisi Aslan, seksualitas dipersoalkan sebagai salah satu kekuatan dasar kehidupan manusia yang berpengaruh bukan hanya dalam percintaan dan hubungan intim, tapi juga misalnya di ranah pendidikan, politik, dan bahkan agama sekalipun.

Bahwa tidak ada pesan moral yang tunggal dalam puisi Aslan bukan berarti tidak ada sikap kritis, juga tidak berarti bahwa moral tidak menjadi persoalan. Pluralitas nilai moral dan perilaku seksual yang ada dalam masyarakat ditanggapi tanpa merepresi segala ambiguitas dan rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh pluralitas itu. Misalnya dalam puisi “Homme Statue” konstruksi gender yang dominan dicairkan lewat dialog mengenai sebuah patung pemain sepak bola (imaji laki-laki yang mainstream) yang ternyata mirip waria. Tapi pada waktu yang sama pilihan-kata pada bait terakhir puisi tersebut, yang menceritakan bagaimana seorang waria “menawarkan duburnya untuk mencekik kemaluan kami”, mengekspresikan rasa tidak nyaman sang aku-liris menghadapi orang dengan orientasi seksual yang berbeda. Dengan kata lain, representasi seksualitas dan imaji gender dalam puisi Aslan bersifat kritis, tapi tidak menjadi “sok toleran” atau “sok terbuka”.
(Katrin Bandel, kritikus sastra)

Untaian sajak Aslan yang dibuat sepanjang 13 tahun ini, mungkin terasa bagai gulungan benang gelasan: tajam, lengket, meliuk. Di ujung gelasan yang tak selalu halus dan bisa jenaka itu, layangan-sobek-kemanusiaan bergelut resah menahan deru angin-buruk-sejarah.
(Nirwan A Arsuka, budayawan)

Ciri puisi Aslan: dia berterus-terang. Ia ingin mengejutkan para hadiran dan pembaca-pembaca. Dia mau merebut perhatian penuh kita!
(Ian Campbell, Periset Keindonesiaan)

Saya bertemu Aslan Abidin lewat sajaknya di sebuah surat kabar mingguan. Sajak itu “Lirisme Buah Apel yang Jatuh ke Bumi” langsung saya sukai, beberapa kali saya bacakan untuk istri saya, juga di panggung resitasi puisi. Sajak itu menunjukkan keterampilan Aslan sebagai penyair mengolah kisah masyhur Newton yang dijatuhi buah apel lantas ia terpercik gagasan merumuskan teori gravitasi. Di tangannya kisah itu setara dengan legenda, hikayat, atau dongeng, yang sudah sering digarap oleh penyair lain. Aslan lalu menggabungkannya dengan melankolia percintaan, dan hasilnya adalah sebuah sajak liris yang unik dan sangat manis. Nyaris tidak pernah ada penyair Indonesia lain yang masuk dan berhasil bermain-main dengan asyik di wilayah itu. Keasyikan yang sama dengan kadar yang berbeda saya temukan juga pada sajak lain di buku ini.

Hasan Aspahani, penyair cum wartawan, pengelola blog Sejuta Puisi
(www.sejuta-puisi.blogspot.com)

| Syair Perang Mengkasar| Penerbit Ininnawa – KITLV Jakarta| C. Skinner (Editor) | 2008 | vi + 248 halaman |
Kitab ini berisi reportase sastrawi bergaya Melayu yang ditulis Enci’ Amin, Jurutulis Raja Gowa Sultan Hasanuddin, tak lama setelah berakhirnya Perang Makassar.
Karya ini dengan lancar dan penuh detail menuturkan kejadian-kejadian di sekitar perang yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan salah satu kerajaan terbesar di abad XVII, Kerajaan Gowa.
Karya sastra ini dilengkapi pengantar dan catatan komprehensif yang sangat membantu pembaca memahami konteks dan tokoh-tokoh historis yang ada di dalamnya.

catatan diskusi buku Setapak Salirang
(Aslan Abidin)

Salah satu bagian terpenting dalam proses perkembangan kebudayaan adalah masa produksi. Masa ini misalnya dengan melakukan pelatihan penulisan, membuat karya tulis dalam pelatihan itu, kemudian menerbitkan tulisan dalam bentuk majalah atau buku.
Ketika contoh produksi yang dipilih adalah produk tulisan atau ‘teks’ seperti di atas, maka menurut Richard Johnson, seorang pemikir cultural studies, masa selanjutnya adalah konsumsi. Sekali lagi, dalam contoh di atas, konsumsi berarti pencerapan atau pembacaan ‘teks’.
Dalam pelatihan penulisan, penulisan, sampai penerbitan, yang menjadi sebab musabab lainnya buku antologi cerpen Setapak Salirang yang kita bicarakan ini, pembacaan kemudian juga sekaligus menjadi cermin baru bagi pembaca terkini Sulawesi Selatan (Sulsel). Tema seragam seputar budaya Sulsel menjadi semacam sudut pandang baru dalam memandang budaya masyarakat Sulsel.
Cara pandang dan pengungkapan banyak ilmuwan atas budaya Sulsel, terutama Bugis dan Makassar, yang sebelumnya lebih narsistik-utopis, kini mendapat “gaya” penuturan berbeda dengan menggunakan nalar puitik. Kecenderungan sastra sebagai karya seni, ditambah peluang besarnya untuk melakukan dekonstruksi, sangat dapat diharapkan untuk “memberontaki” dan menawarkan pandangan yang lebih jujur atas budaya-budaya di Sulsel.
Cerpen, yang seringkali baru bernilai bila memiliki plot yang kuat, sangat dapat diharapkan dapat mengangkat kisah-kisah “sebenar”-nya, yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan di balik kisah-kisah besar yang  narsistik-utopis budaya Sulsel. Ketimpangan antara mitos besar tentang orang Sulsel dahulu yang beradab, dengan watak-perilaku orang Sulsel sekarang yang buruknya dengan kebanyakan orang Indonesia, merupakan wilayah yang dapat digarap sastra secara lebih terus terang.
Sebab, salah satu bencana terbesar yang mengancam kebudayaan Sulsel untuk jatuh lebih parah adalah nafsu besar yang terus-menerus menyembunyikan fakta keburukan diri dan masyarakat sendiri. Berulang-ulang sakau menikmati narsisme budaya sendiri, juga dapat berarti mengubah budaya itu menjadi palsu dan sloganistik. Slogan itu kemudian dengan enteng dipoles oleh politisi menjadi jargon kampanye politik.

2 | Generasi tersekolahkan Sulsel adalah orang-orang yang diserahkan oleh orangtuanya kepada guru untuk mendapat didikan modern. Ini berarti bahwa orangtua, sedikit atau banyak, menyerahkan anaknya untuk mendapatkan tradisi atau didikan baru di sekolah, yang bukan didikan tradisi nenek moyangnya.
Sekolah kemudian mengajarkan bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang berbeda dengan bahasa orangtuanya. Selama puluhan tahun di sekolah, hingga lancar berbahasa Indonesia dan malu berbahasa Bugis atau Makassar, si anak didik, sedikit atau banyak, akan tidak lagi mengenali budayanya sendiri.
Budayanya itu, setelah semakin jauh tertinggal, sesuai tradisi sekolahannya, akan dikemas orang-orang berpendidikan serupa sosiolog atau antropolog asing ke dalam bentuk buku. Buku-buu itulah kemudian yang akan dibaca dan menjadi guru tradisi sekaligus cara anak didik mengenal kebudayaannya.
Masalah yang melingkupi kebanyakan masyarakat dan peserta didik Sulsel selama ini adalah masih kurang dan mahalnya buku-buku untuk mengenal budaya Sulsel. Tetapi lima tahun belakangan, mesik cetak memungkinkan buku-buku tentang  Sulsel menjadi banyak dan murah.
Generasi terdidik Sulsel kemudian dapat mengenali secara detail apa yang samar-samar ia dengar dan lihat di masyarakatnya. Bissu, gurenceng, parakang, walasuji, dan banyak istilah tradisi Bugis yang digunakan para penulis Setapak Salirang, sangat boleh jadi mereka dapatkan dari tradisi sekolahan, bukan dari tradisi Bugis di masyarakatnya.
Masalah selanjutnya adalah ‘teks’ yang telah diproduksi oleh para penulis ini. Setelah mereka mereproduksi budayanya ke dalam bentuk tulisan, menurut Richard Johnson, bagian yang sering dilupakan kemudian adalah pembacaan, termasuk untuk mengetahui pengaruh teks tersebut atas masyarakat.
Selain dari persoalan di atas, cerpenis di Setapak Salirang setidaknya melewati sebuah proses men-cerpenis yang lebih modern dari penulis cerpen kebanyakan di Indonesia. Penulis ini menulis cerpen dan langsung dibukukan. Berbeda dengan umumnya cerpenis di Indonesia yang memulai menulis cerpen di koran, kemudian dibukukan.

*Aslan Abidin, peminat sastra.