catatan diskusi buku Setapak Salirang
(Aslan Abidin)
Salah satu bagian terpenting dalam proses perkembangan kebudayaan adalah masa produksi. Masa ini misalnya dengan melakukan pelatihan penulisan, membuat karya tulis dalam pelatihan itu, kemudian menerbitkan tulisan dalam bentuk majalah atau buku.
Ketika contoh produksi yang dipilih adalah produk tulisan atau ‘teks’ seperti di atas, maka menurut Richard Johnson, seorang pemikir cultural studies, masa selanjutnya adalah konsumsi. Sekali lagi, dalam contoh di atas, konsumsi berarti pencerapan atau pembacaan ‘teks’.
Dalam pelatihan penulisan, penulisan, sampai penerbitan, yang menjadi sebab musabab lainnya buku antologi cerpen Setapak Salirang yang kita bicarakan ini, pembacaan kemudian juga sekaligus menjadi cermin baru bagi pembaca terkini Sulawesi Selatan (Sulsel). Tema seragam seputar budaya Sulsel menjadi semacam sudut pandang baru dalam memandang budaya masyarakat Sulsel.
Cara pandang dan pengungkapan banyak ilmuwan atas budaya Sulsel, terutama Bugis dan Makassar, yang sebelumnya lebih narsistik-utopis, kini mendapat “gaya” penuturan berbeda dengan menggunakan nalar puitik. Kecenderungan sastra sebagai karya seni, ditambah peluang besarnya untuk melakukan dekonstruksi, sangat dapat diharapkan untuk “memberontaki” dan menawarkan pandangan yang lebih jujur atas budaya-budaya di Sulsel.
Cerpen, yang seringkali baru bernilai bila memiliki plot yang kuat, sangat dapat diharapkan dapat mengangkat kisah-kisah “sebenar”-nya, yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan di balik kisah-kisah besar yang narsistik-utopis budaya Sulsel. Ketimpangan antara mitos besar tentang orang Sulsel dahulu yang beradab, dengan watak-perilaku orang Sulsel sekarang yang buruknya dengan kebanyakan orang Indonesia, merupakan wilayah yang dapat digarap sastra secara lebih terus terang.
Sebab, salah satu bencana terbesar yang mengancam kebudayaan Sulsel untuk jatuh lebih parah adalah nafsu besar yang terus-menerus menyembunyikan fakta keburukan diri dan masyarakat sendiri. Berulang-ulang sakau menikmati narsisme budaya sendiri, juga dapat berarti mengubah budaya itu menjadi palsu dan sloganistik. Slogan itu kemudian dengan enteng dipoles oleh politisi menjadi jargon kampanye politik.
2 | Generasi tersekolahkan Sulsel adalah orang-orang yang diserahkan oleh orangtuanya kepada guru untuk mendapat didikan modern. Ini berarti bahwa orangtua, sedikit atau banyak, menyerahkan anaknya untuk mendapatkan tradisi atau didikan baru di sekolah, yang bukan didikan tradisi nenek moyangnya.
Sekolah kemudian mengajarkan bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang berbeda dengan bahasa orangtuanya. Selama puluhan tahun di sekolah, hingga lancar berbahasa Indonesia dan malu berbahasa Bugis atau Makassar, si anak didik, sedikit atau banyak, akan tidak lagi mengenali budayanya sendiri.
Budayanya itu, setelah semakin jauh tertinggal, sesuai tradisi sekolahannya, akan dikemas orang-orang berpendidikan serupa sosiolog atau antropolog asing ke dalam bentuk buku. Buku-buu itulah kemudian yang akan dibaca dan menjadi guru tradisi sekaligus cara anak didik mengenal kebudayaannya.
Masalah yang melingkupi kebanyakan masyarakat dan peserta didik Sulsel selama ini adalah masih kurang dan mahalnya buku-buku untuk mengenal budaya Sulsel. Tetapi lima tahun belakangan, mesik cetak memungkinkan buku-buku tentang Sulsel menjadi banyak dan murah.
Generasi terdidik Sulsel kemudian dapat mengenali secara detail apa yang samar-samar ia dengar dan lihat di masyarakatnya. Bissu, gurenceng, parakang, walasuji, dan banyak istilah tradisi Bugis yang digunakan para penulis Setapak Salirang, sangat boleh jadi mereka dapatkan dari tradisi sekolahan, bukan dari tradisi Bugis di masyarakatnya.
Masalah selanjutnya adalah ‘teks’ yang telah diproduksi oleh para penulis ini. Setelah mereka mereproduksi budayanya ke dalam bentuk tulisan, menurut Richard Johnson, bagian yang sering dilupakan kemudian adalah pembacaan, termasuk untuk mengetahui pengaruh teks tersebut atas masyarakat.
Selain dari persoalan di atas, cerpenis di Setapak Salirang setidaknya melewati sebuah proses men-cerpenis yang lebih modern dari penulis cerpen kebanyakan di Indonesia. Penulis ini menulis cerpen dan langsung dibukukan. Berbeda dengan umumnya cerpenis di Indonesia yang memulai menulis cerpen di koran, kemudian dibukukan.
*Aslan Abidin, peminat sastra.