January 2008


Judul: Hujan Rintih-rintih
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: Ininnawa, Makassar
Cetakan Pertama, Januari 2005

AKU sedang dan selalu menunggu di rumah bersalin puisi, tempat yang cemas dan nyaman menunggu harapan—rumah sakit yang kubangun lama dengan cinta, dengan rindu—ketika sebuah buku datang, mengandung 45 puisi, dan setelah itu aku harus segera ke kantor catatan sipil membuat akte kelahiran, di mataku lahirlah engkau: Penyair M Aan Mansyur. Kelahiran yang sebenarnya telah lama diramalkan. Aku seperti mengikutinya sejak datang bulan terakhir perempuan yang mengandungnya.

SEBUAH buku datang, membawa 45 puisimu. Aku percaya kau telah mengandungnya cukup bulan. Kau adalah penyetubuh yang jantan. Kau punya sperma kata-kata yang sehat dan lincah gerak.

Jika tidak, bagaimanakah bisa kau peranakkan:

kecemasan sebagai hujan rintih-rintih

cuaca selalu datang sepanas pemilu sejak subuh

gerimis tumbuh menderas,
kami tersesat di hutan-hutan hujan
mencari ’tidak’, entah sampai kapan.

seorang yang tak melihat di bawah cahaya,
akan membunuh segala yang silau.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak nyaman hanya melihat usaran arus di muara. Ia adalah orang

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang membuat panggung dari puisinya lalu di panggung itu kalimat-kalimat menari, kata-kata riang berbunyi, bahkan kata yang tak paling pemalu pun tergoda untuk ikut – setidaknya mengetukkan kaki.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak pernah melepaskan badik dari tangan. Badik itu adalah puisi. Badik itu adalah tongkat sihir yang mengubah setiap apa yang ia tikam berubah menjadi puisi, badik itu adalah tongkat komando yang dipatuhi oleh apa pun yang ia tuding dengan perintah. Badik itu juga adalah setangkai mawar yang meluluhkan hati apa pun yang ia rayu cukup dengan sebuah sodoran lembut, bahkan juga meluluhkan hatinya sendiri. Badik itu pula yang ia tikamkan tepat ke pusat jantungnya sendiri. Lalu ia berkata, “beginilah aku memelihara tajamnya…”

PUISIMU, Aan akhirnya di tangan pembaca yang gatal bermain, menjelma bagai plastisin. Ia bisa dibentuk jadi apa saja. Ia menawarkan permainan yang riang. Aku membayangkan sebuah bis pariwisata. Pemandu tur yang jenaka.

bis tiba-tiba berhenti,
tetapi ketika kau ingin turun tiba-tiba berjalan kembali
dan kau harus duduk lagi melanjutkan mengunyah bubblegum

siapa yang mengirim begitu banyak tiba-tiba pada
perjalanan ini, …..

AKU suka tiba-tibamu, tiba-tiba saja. Kelak di buku-buku sajakmu berikutnya, kirimilah aku tiba-tiba sebanyak-banyaknya. Ya, tiba-tiba saja, aku semakin curiga, kau sedang bersiasat menyusun sekian banyak tiba-tiba.

Resensi buku ini juga bisa dibaca di www.sejuta-puisi.blogspot.com

Judul: Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17
Judul Asli: The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) Seventeenth Century
Penerbit: The Hague, Martinus Nijhoff, 1981, Verhandelingen KITLV, 91, 1981 KITLV, Leiden Netherland
Penulis: Leonard Y Andaya
Penerjemah: Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa & Media Kajian Sulawesi, Makassar 2004,
Tebal: xxiv + 459 + 10 peta

ARUNG Palakka bukan sekadar nama, dia adalah sebuah pengertian. Sosok yang merupakan maujud dari panngadereng atau bentuk kebudayaan orang Bugis/Makassar, Sulawesi Selatan. Begitulah yang terasakan selama membaca Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 Karya Leonard Y Andaya.

ANDAYA mengarahkan perhatiannya kepada Arung Palakka sebagai wakil dari tema dan kepercayaan dasar yang sampai sekarang menguasai kehidupan orang Bugis/Makassar. Dari sanalah dia mencoba mencari akar sebab Arung Palakka rela bersekutu dengan VOC seraya memerangi saudaranya sendiri di Kerajaan Goa yang sedang jaya-jayanya sebagai salah satu kerajaan terkuat dan terbesar di Nusantara abad ke-17.

Jawaban persoalan itu, menuru Andaya, kurang tepat jika dicari dalam kerangka persaingan ekonomi di wilayah bagian barat laut Nusantara, antara Kerajaan Goa dan VOC, yang memuncak dalam Perang Makassar 1666-1669, sebagaimana diyakini para sarjana lokal dan mancanegara. Alasan pokok Arung Palakka bukanlah ekonomis-politis, tetapi panngadereng yang meliputi siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu), pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa), dan sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tanpa memahami ketiga ciri kultural yang memegang peranan sangat penting dalam sejarah Sulawesi Selatan saat itu, akan keruh selamanya menilai Arung Palakka. Lagi pula Andaya percaya diktum sejarawan JC van Leur bahwa masa lalu tidak ditulis untuk dinilai dengan nilai masa kini, dan oleh karena itu siri’, pacce, dan sare adalah bahan yang lebih baik dan adil dipakai untuk menilai dan mengevaluasi kejadian penting di abad itu, ketimbang standar masa kini. Demikianlah dia memasuki dan memberi sumbangan penting dalam polemik yang sampai kini masih berkembang di antara masyarakat Sulawesi Selatan tentang Arung Palakka yang tokoh sejati, pahlawan tulen bukan pengkhianat dan penindas.

BERLATAR belakang seperti itu, Andaya memulai riwayat tokohnya dengan membahas sejumlah ciri tertentu budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang dikaitkannya dengan keadaan historis abad ke-17, terutama perkembangan Islam dan perdagangan internasional yang memuncak menjadi ketegangan antara Goa, Bone, dan VOC yang hadir di sana sejak tahun 1601. Ketegangan yang dia perlihatkan dengan rinci menjadi latar kelahiran serta mengisi pikiran masa kanak dan muda Arung Palakka.

Arung Palakka lahir sekitar tahun 1635 di Desa Lamatta, daerah Mario Wawo Soppeng, sebagai pewaris takhta Kerajaan Bone. Ketika umurnya delapan tahun, Bone diperangi Goa yang gusar dan berhasil menaklukkannya. Sejak berumur 11 tahun Arung Palakka dan keluarganya dibawa sebagai sandera ke Istana Goa. Mereka beruntung karena menjadi pelayan Karaeng Pattinggaloang, tokoh penting dan jenius di Kerajaan Goa. Di bawah asuhannya, Arung Palakka tumbuh menjadi pangeran yang mengesankan dalam olah otak maupun olahraga.

Meski dia terlibat aktif di Istana Goa dan berkawan dengan para pemuda Makassar, siri’ dan pacce mengingatkannya selalu sebagai putra dari seorang Bugis pembuangan dan bahwa rakyatnya menderita. Awal 1660 dia merasa penderitaan itu semakin hebat karena harus menyaksikan 10.000 orang tua maupun muda diseret dari Bone ke Makassar atas perintah Sultan Hassanudin melalui Karaeng Karunrung dan Regent (Bupati) Bone, Tobala. Mereka dijadikan pekerja paksa penggali kanal di sepanjang garis pertahanan pantai Makassar agar ada pemisah antara Kerajaan Goa dan Benteng Pa’nakkukang yang diduduki VOC.

Lantaran banyak yang sakit dan melarikan diri, seluruh bangsawan Bone dan Soppeng diperintahkan keluar dari istana, bekerja bersama rakyatnya. Ini melipatgandakan pelecehan siri’ yang sudah diderita oleh rakyat Bugis karena junjungannya dipaksa melakukan pekerjaan kasar yang tidak seharusnya. Pelecehan siri’ itu menjadi derita kolektif orang Bugis dan menebalkan pacce di antara mereka. Perlawanan pun dirancang.

Arung Palakka adalah salah satu perancangnya, tetapi perlawanan itu patah oleh kekuatan Goa yang besar. Ia terdesak. Akhir tahun 1660 dia meninggalkan Sulawesi bersama pengikutnya menuju Batavia dengan bantuan VOC, namun dalam hatinya terpatri sumpah tidak akan berhenti mencari cara untuk kembali, bikin perhitungan, dan merdekakan negeri Bugis.

Setelah menunggu lima tahun, keinginannya terkabul. VOC yang kagum akan daya tempur pengikut Arung Palakka yang disebut Toangke (“Orang Angke”, diambil dari Kali Angke yang mengalir melewati perkampungan Bugis di Batavia) saat membantu memadamkan pemberontak Minangkabau, mengajaknya memerangi Goa yang dinilai mengganggu kepentingan ekonomi VOC.

ANDAYA memberi ruang luas buat mengisahkan Perang Makassar. Salah satu yang menarik adalah ditunjukkannya psikologi Arung Palakka dan Cornelis Speelman yang menjadi aktor utama pilihan VOC memimpin ekspedisi ke Goa. Keduanya menderita oleh apa yang mereka anggap ketidakadilan sehingga rela berkorban apa pun demi memulihkan nama.

Speelman yakin cuma kemenangan yang bisa membersihkan namanya dari noda dipecat dengan tidak hormat karena perdagangan gelapnya sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Sementara bagi Arung Palakka, kemenangan akan membebaskannya dari beban berat bahwa siri’-nya telah mati.

Hanya dengan memulihkan siri’-nya dan rakyatnya dia dapat memperlihatkan wajah di Sulawesi Selatan. Dia yakin lebih baik mati untuk mempertahankan siri’ (mate ri siri’na) ketimbang hidup tanpa siri’ (mate siri’). Mati untuk memulihkan siri’ adalah “mati dengan siraman gula dan santan” (mate ri gollai, mate ri santannge). Situasi psikologis itulah yang mendorong keduanya “menafsir ulang” perintah VOC dan menjalankan “jihad” terhadap Goa.

Hal lain yang menarik adalah kajian Andaya mengenai dampak perang itu atas rakyat Makassar. Melalui cerita rakyat Makassar, Sinrili’na Kappala’ Tallumbatua, dia memperlihatkan Arung Palakka dan Perang Makassar yang dimaknai rakyat pedesaan Makassar sebagai kemenangan rakyat dan keunggulan nilai-nilai mereka yang didasarkan pada kebiasaan dan praktik (ada’) yang sudah sangat tua dalam masyarakat, yaitu siri’, pacce, dan sare.

Ini sangat berlainan dengan tulisan para sejarawan Barat maupun sejarawan Indonesia yang melulu bergantung pada sumber Kerajaan Bugis-Makassar dan/atau dokumen VOC. Mereka cenderung menggambarkan kepahitan dan pesimisme di kalangan para raja dan ningrat Makassar sebagai pantulan perasaan seluruh rakyat Makassar. Jadi, seharusnya masyarakat Sulawesi Selatan dapat menurunkan kadar emosional dan lebih rasional setiap mendiskusikan mengenai implikasi Perang Makassar.

Seusai Perang Makassar, Arung Palakka sangat memahami bahwa VOC telah menjadi kekuatan “di”, namun bukan “milik”, Sulawesi Selatan. Perbedaan ini disadari dan dimanipulasi untuk menciptakan dirinya sebagai salah satu penguasa atasan paling berhasil dalam sejarah Sulawesi Selatan. Jalan menuju ke sana dirintisnya tidak saja dengan kesadaran dia tidak akan berbalik melawan VOC yang telah memulihkan hidupnya dan rakyatnya, tetapi juga dengan selalu membuktikan kesetiaannya. Ia rela meninggalkan negerinya pada Mei 1678 untuk berperang membantu VOC menyelesaikan persoalan pengungsi Makassar pimpinan Karaeng Galesong yang membantu perlawanan Trunajaya di Jawa.

Akhirnya, Andaya menyimpulkan Arung Palakka adalah tokoh yang diberkati visi dan kepiawaian politik yang kuat sehingga mampu menggunakan pengaruhnya dengan efektif terhadap negara lokal, bahkan membuat pemerintah pusat VOC di Batavia bergantung dan rela mengabaikan suara wakilnya di Fort Rotterdam agar membelenggu Arung Palakka yang memaksa mereka semua berbagi mimpinya akan Sulawesi Selatan bersatu.

Mimpi yang dalam 30 tahun kekuasaannya berhasil diwujudkan, tetapi sekaligus membuat banyak pangeran dan pengikutnya yang tak setuju lari mencari rumah di tanah seberang sehingga mewarnai sejarah daerah tujuan itu. Inilah yang menurut Andaya sebagai warisan Arung Palakka, tidak hanya bagi Sulawesi Selatan tetapi juga bagi Nusantara, selain teladan pribadinya sebagai pemimpin yang sadar, paham, teguh memegang serta menjalankan tradisi politik yang bermartabat sebagaimana tersebut dalam amanat leluhur yang tertulis maupun tak tertulis.

(JJ Rizal, peneliti sejarah dan sastra di Komunitas Bambu)

Tulisan ini dipetik dari Membaca Luka Arung Palakka.

Judul: JAGAD MARITIM: Dialektika Modernitas dan Artikulasi Kapitalisme pada Komunitas Konjo Pesisir di Sulawesi Selatan.
Penulis: Darmawan Salman
Penerbit: Ininnawa, Makassar 2006
Tebal: xvi + 319 halaman

Jika ada pertanyaan, “Kawasan pesisir apa yang paling terkenal akan budaya kebahariannya”, jawabannya adalah ujung selatan Pulau Sulawesi, yaitu Bulukumba. Dari kawasan ini pinisi khas buatan orang Ara tercipta, ada Pantai Bira yang pemandangan pasir putih dan matahari tenggelamnya memikat mata, dan ada Palari-nya, pengusaha ikan yang konon katanya kesuksesan usahanya dibayar dengan “tidak boleh meninggalkan halaman rumahnya karena dia mempunyai kontrak dengan makhluk halus“.

Buku Jagad Maritim: Dialektika Modernitas dan Artikulasi Kapitalisme pada Komunitas Konjo Pesisir di Sulawesi Selatan secara spesifik membahas tiga komponen di komunitas pelaut dan nelayan, yaitu tukang perahu, pengusaha wisata bahari, dan nelayan; di tiga desa (kelurahan) yang berbeda, yaitu: Tanalemo (Tana Beru), Bira, dan Tanah Jaya.

Kekhasan buku ini adalah tidak lagi menjadikan “pengetahuan pembuatan perahu yang unik dan tradisional” sebagai tema utama. Penulis menggunakan perspektif lain, masyarakat pesisir di Bulukumba yang menuju kehidupan industri dan penumpukan modal (kapital). Ini terlihat dari gambaran penulis tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tradisi, kepercayaan, dan sistem lain yang ada di dalam masyarakat berorientasi laut, yaitu tukang perahu dan nelayan. Dan yang paling kentara adalah bagian industri yang murni kapitalis dan termasuk pemain baru di kawasan pantai Bulukumba dijadikan teman sejajar dari dua komponen sebelumnya, yaitu pelaku industri wisata.

Pembagian atas tiga hal tersebut (komponen dan tempat penelitian) merupakan kelebihan buku ini, di sisi lain juga menjadi kekurangan sebab buku ini begitu kaku membedakan tiga kampung (Tana Lemo, Bira, dan Tanah Jaya) sebagai pusat (sentra) tempat pembuatan perahu, daerah wisata, dan sebagai tempat pendaratan ikan; dan hanya menfokuskan pada tiga komponen tersebut (tukang perahu, pengusaha ikan, dan pengusaha wisata).

Ya memang betul bahwa Tana Lemo atau Tana Beru memang terkenal sebagai tempat pembuatan perahu. Tapi apakah di tempat tersebut tidak ada nelayan dan usaha wisata bahari? Bukankah Tana Beru dikenal sebagai salah satu lokasi utama wisata di Indonesia dalam hal kebaharian? Demikian juga ketika berbicara tentang Bira, yang diwakili oleh pembahasan tentang wisata bahari, pembahasan tentang pelaut dan nelayannya hampir tidak ada. Bukankah Bira, yang pernah dibuatkan sinetron “Lelaki dari Tanjung Bira”, lebih terkenal sebagai asal para pelaut ulung?

Yang juga perlu dikritisi dari buku ini adalah terlalu banyak (atau hampir semuanya?) menggunakan cara pandang atau pengalaman “orang-orang besar” sebagai sumber informasi tiga aspek yang dibahas. Ini terlihat pada Bab VII “Konteks Nilai dan Etos Lokal”, penulis menuliskan hasil wawancara dengan beberapa informan terpilih sebagai cerminan tiga fokus kajian. Semuanya tertulis “… Pengusaha …”. Ya, bagian-bagian ini tampak berhasil memperlihatkan ke pembaca “contoh kasus dari orang kecil menjadi orang besar”, tapi harus diakui, itu hanya satu sisi. Alangkah baiknya jika kepada pembaca juga dikemukakan suara “orang-orang biasa” di kegiatan pembuatan perahu, penangkapan ikan, dan kegiatan wisata.

Apakah tidak ada peran penyewa ban di Pantai Bira, pangga’de-ga’de yang berjejer di depan Hotel Bira Beach, para pembuat miniatur perahu, dan nelayan yang perahunya biasa disewa turis? Lalu bagaimana dengan peran pemilik “kebun” bitti (jenis kayu yang digunakan sebagai tulang gading perahu) dan para pengambil kayu (dan kuda mereka yang kuat mendaki bukit) untuk mengambil bahan baku perahu?

Buku juga menafikan peran perempuan (dalam arti tidak membahas peran-peran mereka secara mendalam), baik di komunitas tukang perahu maupun nelayan. Sekilas memang tidak ada peran perempuan dalam pembuatan perahu, tapi di balik itu cukup signifikan.

Beberapa tahun terakhir, yang masih dalam kisaran lingkup penelitian penulis Jagad Maritim (tesis 1992-1993, desertasi 1999/2000), tukang perahu bisa dikatakan tidak sepenuhnya sepanjang tahun mengerjakan perahu. Pun pesanan pembuatan perahu tidak selamanya ada. Lalu dari mana tukang perahu menghidupi keluarganya ketika tabungan hasil pembuatan perahu sudah habis? Dengan kata lain, bagaimana manajemen keuangan dalam keluarga tukang perahu? Dan apa yang dilakukan perempuan Bira untuk menghidupi dirinya ketika suaminya melaut dalam waktu lama?

Disinilah peran perempuan terlihat nyata sebagai “kepala rumah tangga”, sayangnya Jagad Maritim tidak memaparkan hal ini.

Demikian halnya dengan dinamika yang terjadi di nelayan. Memang nelayan di Tanah Jaya telah menjadi bagian dari salah satu unsur produksi hasil laut masyarakat dunia. Hasil tangkapan di laut lepas yang berorientasi ekspor telah menggerus peran perempuan di kalangan nelayan.

Walau demikian, peran mereka tidaklah sepenuhnya terlepas. Ini terlihat dari dinamika ketika nelayan baru datang melaut. Lalu siapakah yang mendistribusikan hasil tangkapan nelayan ke konsumen lokal. Apakah tidak ada hubungan antara nelayan dengan perempuan? Banyak kasus, para penjual ikan itu adalah isteri dari para nelayan. Lalu bagaimana perspektif dan keadaan mereka ketika kegiatan penangkapan ikan yang sangat mengedepankan penumpukan modal?
***
Khusus proses modernisasi dalam pembuatan perahu, pergeseran ruang normatif (hal. 72) lebih banyak membahas tentang legenda Sawerigading dan ritual. Praktek aturan teknis pembuatan perahu, malah tidak dibahas. Misalnya rumus penyusunan papan, penamaan bagian-bagian, waktu yang tepat untuk memulai pembuatan (penggunaan kutika atau rumus hari/jam baik-buruk), dan pemali-pemali. Artinya, penulis tidak mencoba untuk merasionalisasi praktek yang “tidak rasional” tersebut.

“… Selain bermakna meneruskan kebiasaan nenek moyang yang terkait dengan simbol mitos, magik dan mistik, yang dengan demikian ia tergolong tindakan tradisional; pelaksanaan upacara tersebut telah mengalami reinterpretasi, yang dengan itu bukan sekedar meneruskan kebiasaan, tetapi ada makna lain yang menjadi dasar motivasinya” (hal. 83-84).

Penulis Jagad Maritim menyimpulkan tiga motivasi mengapa tradisi praktek ritual dan mistik tetap dijalankan, pertama: sebagai tradisi yang dipercayai akan menunjang kekuatan dan keselamatan perahu; kedua, sebagai bentuk legitimasi terhadap tradisi pembuatan perahu lebih kuat; dan ketiga, sebagai tontonan wisata.

Khusus motivasi pertama, penulis menuliskan “ … meskipun kebenaran tentang hubungan antara upacara dengan kekuatan dan keselamatan perahu sulit dibuktikan” (hal. 84). Ya, kelihatannya tidak ada hubungan, tapi sebenarnya, praktek ritual dan mistik dalam pembuatan perahu adalah metafora dari siklus kehidupan manusia dan pola pergaulan sosial masyarakat. Demikian juga aturan teknis pemasangan bagian-bagian perahu yang penuh dengan pemali-pemali, tapi sebenarnya masuk akal (rasional) jika dikaji motivasi di balik itu.

Dengan kata lain, ada motivasi yang belum dikemukakan oleh penulis, bahwa beberapa praktek yang sekilas terlihat sebagai ritual-mistik, sebenarnya, adalah kontrak sosial antara pemesan dengan tukang perahu; sebenarnya aturan teknis yang bisa dibuktikan secara ilmiah.
***
Buku ini menjadi pemecah kebekuan kurangnya publikasi ilmiah mengenai kebudayaan bahari bumi panrita lopi, Bulukumba. Ya, memang sudah ada beberapa penelitian ilmiah mengenai kebudayaan bahari di Bulukumba (lihat “Catatan-catatan” di hal. 20), baik dari dalam maupun dari luar negeri, akan tetapi yang bersifat mutakhir dan mudah diakses publik, sejauh pemahaman saya, baru buku Jagad Maritim.

Dengan jeli, Jagad Maritim memperlihatkan penyebab, proses, dan motivasi transformasi perubahan masyarakat berorientasi bahari salah satu suku pelaut di Sulawesi Selatan, Suku Konjo (Sub-etnis Makassar). Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, penulis tidak terjebak lagi pada romantisme, bahwa pelaut dan tukang perahu kita mempunyai teknik pelayaran dan pembuatan perahu “tradisional”.

Itu cerita masa lalu. Sekarang pelaut tidak lagi menggunakan pinisi, kompas harus ada, dan jika tidak ada mesin, kapal tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, pembuatan perahu seakan tak lancar bila tak ada listrik. Bunyi ketam dan bor listrik terdengar di sepanjang pantai Tana Beru. Dan beberapa perahu sudah menggunakan gambar teknis sebagai dasar bentuk perahu, setidaknya perahu pesanan orang asing.

Pengaruh dunia luar seakan tak bisa dipisahkan lagi dengan dinamika masyarakat pantai di Bulukumba, khususnya yang bergerak di kegiatan pembuatan perahu, penangkapan ikan, dan industri wisata. Harus diakui, untuk beberapa kasus, tukang perahu ditolong pesanan perahu oleh pelaku wisata dan publikasi diri dan usaha mereka di media massa dan media-media ilmiah (jurnal, monografi, dan buku), baik dalam maupun luar negeri.

Dunia kebaharian komunitas Konjo, demikian juga komunitas kebaharian lain di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peranan banyak stakeholder. Tukang perahu (kepala tukang dan sawi-sawi-nya), dukun, ulama, pemilik modal, nelayan (punggawa laut dan sawi), anak-anak kecil, perempuan (isteri nelayan dan anak putri), pappalele (pedagang perantara), pemandu wisata, pedagang kaki lima, dan pemerintah setempat adalah satu kesatuan. Masing-masing memiliki sudut pandang dalam melihat perubahan yang terjadi di sekitar mereka, baik yang mereka lakoni langsung, yang mereka lihat, dan yang mereka alami.

Menfokuskan kajian pada stakeholder tertentu tidak ada salahnya, namun di sisi lain peran komponen lain hendaknya tidak terabaikan. Sejarah kecil “orang-orang biasa” seringkali terlihat biasa dan tak layak masuk koran karena bukan dia yang membuat pinisi yang berlayar ke Kanada, Madagaskar, dan tidak pernah menerima pesanan perahu dari orang asing, tapi kadangkala cerita dan kisah mereka amat mengagumkan. (p!)

*Peneliti kemaritiman, dapat dihubungi melalui email sandeqlopi@yahoo.com

Judul: MAKASSAR NOL KILOMETER
Editor: Anwar J. Rachman, M. Aan Mansyur, Nurhady Sirimorok
Penerbit: Media Kajian Sulawesi dan Ininnawa
Tahun: 2005
Tebal: 375 Halaman

Sebagian dari corak kehidupan kota Makassar yang beragam dan karakter kebudayaan yang akulturatif itulah yang dituangkan oleh sejumlah penulis dalam Makassar Nol Kilometer.

Secara umum buku ini menguak empat isu utama: komunitas, kuliner, fenomena, dan ruang. Walau demikian, keempat isu itu tidak digarap berdasarkan pretensi akademik yang lebih fokus menelaah hal-hal yang mainstream, tetapi lebih berorientasi bagi upaya merekam dan mengungkap denyut kehidupan yang khas dan unik di Kota Makassar.

Perihal kehidupan komunitas yang tergolong khas Makassar adalah kelompok maniak bola, pendukung separuh mati kesebelasan PSM. Mereka itu, sesaat setelah PSM keluar sebagai pemenang saat bertanding di lapangan Andi Mattalatta (dulu Stadion Mattoanging), berkonvoi keliling kota dengan deru bunyi kendaraan yang memekak telinga tanpa peduli rambu lalu lintas, dan seolah kelompok mereka sajalah yang berhak atas jalan raya.

Gejala yang unik berlaku pula pada kelompok waria, mereka amat kreatif memperbaharui kode-kode komunikasi di antara mereka. Mereka yang kini setiap malam berkumpul di sudut lapangan Karebosi, tidak lagi mengerti kode komunikasi pendahulu mereka yang telah pensiun menggumuli kehidupan malam di Karebosi. Itu terjadi karena kode bahasa yang digunakan akan mereka perbarui manakala telah dipahami oleh komunitas lain di luar komunitasnya.

Hal yang lebih unik lagi adalah gaya hidup warga Makassar yang seolah terbelah dalam dua kutub ekstrim, yaitu Utara mewakili gaya hidup kelas menengah bawah dan Selatan mewakili kelas menengah atas. Misal, selera musik anak-anak Utara adalah dangdut. Akronim dari dendang orang-orang tersudut. Sementara anak-anak Selatan lebih mengapresiasi musik pop, country, rock, dan jazz.

Kuliner. Sungguhpun Kota Makassar telah diserbu oleh makanan-makanan impor, makanan fast food yang secara sosial mengemban citarasa kelas menengah atas, namun makanan-makanan khas yang merupakan warisan dari leluhur Bugis-Makassar, seperti pallu basa, coto, sop saudara, ikan bakar dan lainnya, tetap bertahan dan diminati oleh masyarakat. Karena itu makanan tersebut banyak disajikan di berbagai warung makan pojok hingga kelas restoran, dan bahkan selalu tersaji di setiap acara syukuran dan upacara yang bersangkut paut dengan siklus kehidupan (aqiqah, sunatan, perkawinan, dan juga upacara kematian). Gejala itu mengisyaratkan bahwa ada hal yang relatif sulit berubah dalam diri manusia–meskipun dihantam oleh arus kuat globalisasi–yakni selera makan. Memang, telah menjadi aksioma di kalangan ahli antropologi nutrisi bahwa jenis dan menu makanan yang selalu dikonsumsi oleh anak manusia sejak belajar mengonsumsi makanan di luar air susu ibu, hingga berusia balita akan membentuk selera makan mereka, dan selera makan itu sangat sulit berubah.

Isu yang berkenaan dengan fenomena yang juga unik di Kota Makassar adalah orang-orang yang mengantarkan mayat ke tempat pembaringannya yang terakhir. Raungan mobil ambulans di tengah jalan berada di tengah kendaraan para pengiring jenazah. Bagian depan mobil jenazah, kendaraan roda dua melaju dengan kecepatan rata-sekitar 70 km per jam, dan selain seolah mau menggunakan seluruh badan jalan, juga hendak menabrak seluruh pengguna jalan yang searah dan berlawanan arah dengannya. Kendaraan yang dilewatinya harus segera menyingkir ke sisi tepi jalan. Tak menyingkir, berarti siap menerima bala. Dari segi normatif agama, seyogyanya orang-orang yang berada di jalan dan sedang larut tenggelam dengan urusan duniawiah, saat berpapasan dengan mayat akan segera berefleksi tentang nisbinya dunia dan kemudian mendoakan almarhum/almarhumah agar selamat di haribaan ilahi, malahan yang terjadi adalah sebaliknya. Hatinya murka, dan acap terlontar ungkapan dari mulut mereka, “sudah meninggal masih menyusahkan orang”.

Perang antar kelompok, juga merupakan fenomena unik di Kota Makassar. Unik karena tidak hanya menjadi suatu kebiasaan bagi anak remaja yang bermukim di daerah slum, tetapi fenomena itu selalu muncul saat bulan ramadan—bulan suci, bulan penuh rahmat dan hidayat—saat mereka baru saja menunaikan salat tarawih dan salat subuh. Perang antar kelompok tercipta tidak lama setelah mereka menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang serta juga mengucapkan salam di akhir salat. Dua dari sekian banyak simbol ibadah yang mestinya dimaknai sebagai keharusan umat manusia berikhtiar mewujudkan kehidupan saling mengasihi di antara sesama, dan menyelamatkan seluruh ciptaan Allah dari kerusakan.

Fenomena tawuran di Kota Makssar, bukan melulu menjadi milik anak-anak yang tumbuh di daerah kumuh, melainkan diadopsi pula oleh mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi di Makassar. Fenomena itu sungguh rumit dijelaskan dengan menggunakan logika normal. Sebab, selama ini mahasiswa diklaim sebagai generasi terdidik dan tercerahkan, tetapi tindakannya masih saja mengikuti naluri primitif.

Satu sisi dari tata ruang di Kota Makassar yang menarik adalah menjamurnya Mall dan tempat perbelanjaan modern lainnya. Hanya saja tulisan tentang itu lebih fokus pada riwayat kehadirannya di Kota Makassar, ketimbang dampaknya bagi warga kota yang mungkin sudah mulai terpapar dengan gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta efeknya bagi keberadaan pasar tradisional. Serupa halnya dengan tulisan tentang pasar tradisional—pasar yang transaksinya dilakukan melalui proses tawar menawar antara pihak penjual dan pembeli—lebih mengungkap riwayat keberadaan pasar dan denyut kehidupan di seputar arena pasar. Kurang menyelam lebih jauh ke hal-hal yang dialami, dirasakan, dan diharapkan oleh pelaku-pelaku di pasar tesebut yang menjual barang yang juga dijual di Mall dan pasar modern lainnya.

Secara umum, buku ini memang mengungkapkan banyak hal tentang denyut kehidupan Kota Makassar, namun informasi yang dipaparkan terkesan lebih banyak didapatkan melalui pengamatan dan wawancara sambil lalu. Akibatnya kurang terungkap sisi dalam dari gejala-gejala kehidupan warga Kota Makassar. Walau demikian, buku ini telah memberikan sumbangan yang amat penting, setidaknya sebagai ‘pembuka pintu’ bagi para akademisi dan pemerhati kehidupan perkotaan untuk menyelam lebih dalam, dan mengungkapkan realitas yang tersembunyi di balik berbagai gejala sosial yang unik dan khas di Kota Makassar.

Terakhir, buku ini juga berguna buat orang-orang, utamanya dari luar Makassar, yang ingin tahu banyak hal-hal khas tentang Makassar. Layak dijadikan tour guide buat para pelancong, domestik atau internasional.

*) Dosen Antropologi Universitas Hasanuddin, Makassar.