[Assikalaibineng, kamasutra versi bugis (6-selesai)]

Tribun Timur | Kamis, 22 Januari 2009 | 00:52 WITA

TEKNIK bertahan dalam persetubvuhan menjadi hal yang sangat penting dan mendapat tempat khusus dalam Assikalaibineng. Dan sekali lagi, pihak suami menjadi faktor kunci.

Kitab peretubuhan Bugis ini tahu betul bahwa pihak suami senantiasa lebih cepat menyelesaikan hubungan ketimbang perempuan. Menenangkan diri, sabar, konsentrasi, dan memulai dengan kalimat taksim amat disarankan sebelum foreplay.
Manuskrip Assikalaibineng amat mementingkan kualitas hubungan badan ketimbang frequensi atau multiorgasme. Assikalaibineng adalah ilmu menahan nafsu, melatih jiwa untuk tetap konsentrasi dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu.

(more…)

Tribun Timur | Kamis, 22 Januari 2009 | 15:09 WITA

Makassar, Tribun – Heboh buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis berimbas ke Toko Buku Gramedia Panakkukang, Makassar, Kamis (22/1).

“Luar biasa. Kami baru buka toko, dalam 30 menit pertama, sudah laris 10 buku,. Hingga pukul 1 siang, sudah 20 buku,” kata Store Manager Toko Buku Gramedia Yohannes Beda kepada Tribun.

Gramedia sendiri sudah mulai memasarkan buku ini sejak dua hari lalu. Namun permintaan atas buku itu sudah terjadi sejak sepekan lalu. (more…)

[Diprediksi Jadi Best Seller di Toko Buku Gramedia Mal Panakkukang dan MaRI]

Tribun Timur |  Kamis, 22 Januari 2009 | 02:26 WITA

ANIMO warga Kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan untuk memiliki buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis, yang diterbitkan Ininnawa sangat tinggi. Buku karya Muhlis Hadrawi ini resmi merambah toko-toko buku di kota ini termasuk di Gramedia Mal Panakkukang dan Mal Ratu Indah (MaRI), Selasa (20/1).

“Kami sudah jual sejak kemarin (Selasa, 20/1). Baru masuk langsung laku lima belas. Kami saat ini hanya memiliki stok terbatas. Kondisi terakhirnya belum saya cek, tidak menutup kemungkinan besok (hari ini) sudah ludes,” kata Store Manager Gramedia Mal Panakkunang Yohanes Beda, Rabu (21/1). (more…)

[Oleh Supa Athana Direktur Iranian Corner Universitas Hasanuddin]

Opini | Tribun Timur | Jumat, 23 Januari 2009 | 22:53 WITA

Seks juga adalah sebuah cara untuk menjaga stabilitas kehidupan manusia. Oleh karean itu perkawinan dapat dikatakan sebagai sumber, akar, dan pusat kehidupan itu sendiri. Perkawinan adalah asal mula dari kehidupan itu sendiri secara sosial maupun individu

Assikalaibineng, buku yang ditulis oleh salah seorang dosen penuh potensi dan dedikasi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Muhlis Hadarawi, mengalami kesalahan semantik, desakralisasi sekaligus menunjukkan sebuah sikap inferior ketika harus diasosiasikan dengan Kamasutra.
Kesalahan semantik itu karena Kamasutra sama sekali tidak punya latar cerita yang sama maupun   latar alih bahasa dengan Assikalibeneang. Keduanya berada pada bahasa, budaya, dan tempat yang berbeda. Dari sisi mana pun tidak menunjukkan hubungan yang berkait.
Berangkat dari kesalahan semantik tersebut menimbulakn sebuah desakralisasi. Alasannya adalah; Pertama, dalam Kamasutra, yang ditulis Vatsyayana, hanya membahas seks dari segi aktivitas fisik, emosi, karakter, dan perasaan pasangan, serta aturan-aturan lainnya. Dan ia tidak sampai pada pembahasan adanya hubungan keterlibatan Tuhan dalam setiap hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami istri.
Bagi saya, Assikalibeneang jauh lebih detail, kompleks, real pembasaannya ketimbang Kamasutra. Assikalaibineang sebuah konsep tatacara melakukan hubungan badan antara suami isteri yang lebih lengkap dan lebih realistis sekaligus lebih sakral dan mulia dibandingkan dengan konsep Kamasutra.
Assikalaibineang sangat jelas menunjukkan “keterlibatan” Tuhan pada hubungan badan suami istri. Ia dilakukan harus dalam keadaan berwudhu, setelah itu  membaca surah al-ikhlas tiga kali, kemudian memulai permainan dan pada setiap perubahan gerakan permainan dan mengkonsentrasikan ciuman pada bagian tertentu dari tubuh istri harus selalu diiringi pula dengan doa, hingga bila air mani keluar dianjurkan untuk bertakbir sebanyak 4 kali (Hal.91-95).
Dalam rangka melibatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan lewat hubungan sekseual tersebut ia memakai ilmu pengetahuan dari Baginda Ali ketika dia akan berhubungan Fatimah (hal.99).
Menjadikan Ali sebagai rujukan ilmu memang sesuatu yang niscaya bagi yang mengaku sebagai umat Muhammad karena Nabi Muhammad SAWsendiri bersabda:”Ana Madinatul ‘ilm wa Aliun Babuha (Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya). Jadi sangat tepat memang bila dalam tradisi keilmuan masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja merujukkan keilmuanya kepada Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan hadis,  bila ingin masuk dalam kota ilmu maka adalah tindakan yang sopan dan santun  harus masuk lewat pintu gerbangnya. Selain itu tercela.

Ruh Suci
Ketika hendak memulai hubungan badan sangat dianjurkan berwasilah kepada Ali dan Fatimah demi mendapatkan keberkahan, kesempurnaan, kepuasaan dan kenikmatan puncak. “Jika kamu dan istrimu berhubungan pertama kali tafakkur-lah lebih dahulu/tatapkanlah mata hatimu, lihatlah dirimu Alif dan lihat huuf Ba istrimu/Kemudian peganglah lengannya lalu ucapkan salam berbunyi/Assalamu alikum, Ali memegang, Fatimah dipegang/. (Hal.100).
Dalam konteks ini, hubungan seksual tidak akan mencapai puncak pemaknaan dan kenikmatan   ketika tidak melibatkan ruh suci tersebut. Artinya sakralitas hubungan ibadah seksual tidak akan sampai pada puncak kemakrifatan dan kenikmatan yang haikiki dalam memahami kenikmatian surgawi bila tidak melalui pintu Ali dan fatimah.
Spiritual hubungan ibadah seksualitas akan tertolak secara ruhaniah bila tidak berpegang kepada Ali. Ini salah satu pemaknaan terhadap sabda nabi: “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga: Al Quran dan ‘Itrahku, Ahlul baitku. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku. Maka janganlah kalian mendahului keduanya sehingga kalian binasa, jangan menganggap enteng keduanya sehingga kalian binasa, dan jangan mengajari mereka karena mereka lebih tahu dari kalian.”
Siapakah Ahlul Bait Nabi? Dalam ayat:”Katakan hai Muhammad: ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada Ahlul Bait-ku (keluargaku)’.” (Surat Asy-Syura:23). Ayat ini diperjelas oleh hadis Nabi saw yang terdapat dalam kitab Hilyatul Awliya’, jilid 3 halaman 201 disebutkan: Jabir Al-Anshari berkata: Pada suatu hari orang badui datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata: Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam!
Rasulullah SAW bersabda: “Bersaksilah kamu sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Kemudian orang Badui itu bertanya: Apakah dalam hal ini (dakwah ini) kamu meminta upah padaku? Rasulullah saw menjawab: “Tidak, kecuali kecintaan kepada keluargaku.”
Selanjutnya orang badui itu berkata: Sekarang aku berbaiat kepadamu, dan semoga Allah melaknat orang yang tidak mencintaimu dan keluargamu. Rasulullah saw menjawab: “Amin.” Ayat ini diperjelas lagi oleh tafsir Ad-Durrul Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, tentang ayat ini: As-Suyuthi mengutip suatu hadis yangbersumber dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika ayat ini (Asy-Syura: 23) turun, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, siapakah dari keluargamu yang wajib dicintai oleh kami? Rasulullah saw menjawab: “Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.”

Mula Kehidupan
Tujuan perkawinan selain adanya keinginan untuk melanjutkan generasi juga untuk menyalurkan kebutuhan naluri libido manusia, sebagaimana naluri lapar untuk makan dan haus untuk minum- demi menjaga dan mengembangkan kesehatan dan kemampuan baik fisik dan ruhaniah manusia.
Dengan kata lain, seks juga adalah sebuah cara untuk menjaga stabilitas kehidupan manusia. Oleh karean itu perkawinan dapat dikatakan sebagai sumber, akar, dan pusat kehidupan itu sendiri. Perkawinan adalah asal mula dari kehidupan itu sendiri secara sosial maupun individu. Sebagaimana manusia sekarang ini karena adanya hubungan seksual yang dilakukan oleh nenek moyang umat manusia: Adam dan hawa.
Tidak berlebihan bila menyebut nama Ahlul Bait untuk tujuan keberkahan tersebut sebab Nabi Adam saja mengalami kembali proses pemulihan spiritual tatkala ia menyebut nama Ali. Dalam buku ‘Dari Adam AS Hingga Isa AS’ disebutkan setelah Adam melakukan dosa, dia berdoa,”Wahai Tuhanku, Aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan Muhammad, Ali, Fatimah, al-Hasan, al-Husain ampunilah daku,’ Allah pun mengampuniya dengan tawassul ini.
Itulah yang disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya(QS.al-Baqarah:37). Setelah Adam turun ke bumi dia membuat cincin dan mengukir padanya:’Muhammad Rasulullah wa ‘Aliyyun Amirul Mu’minin. Akhrnya Adam diberi gelar dengan Abu Muhammad.(hal-121)
Begitu mendalamnya pengaruh konsep Islama yang menempatkan Ali sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam Islam sekaligus sebagai wasilah yang menyelamatkan dan menghubungkan dengan Tuhan dalam tradisi keagamaan dan keberislaman pada suku-suku di Sulawesi (terutama suku Bugis-Makassar) sehingga momentum hubungan seksual yang paling pribadi sekalipun nama Ali dan Fatimah harus disebut-sebut. Dan konsep keberislaman yang memberikan penekanan terhadap Ali dan Fatimah, setelah Rasululah tentu saja, pada seluruh fragmen kehidupan manusia  adalah konsep Islam di negeri Ahmadinejad: Republik Islam Iran.

Pemikiran Islam
Ada lagi, dalam buku Hadrawi ini, yang mengusung konsep kemanunggalan antara Allah, Rasulullah, Ali dan Fatimah. Perhatikan kalimat berikut:” Allah Taala mabbarattemu Muhamma’ mappenedding Ali mappugau Patima ttarimai(hal.68)(Allah Taala yang bersetubuh, Muhammad yang merasakan, Ali yang berbuat, Fatimah yang menerimanya)(hal.101).
Antara Allah, Rasulullah, Ali dan Fatimah adalah sebuah kemanunggalan atau dalam istilah tasawwuf disebut Wahdatul Wujud. Pengertian sederhana wahdatul wujud adalah bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Ada pun guru besar pertama konsep wahdatul wujud adalah Husain Ibn Mansyur al-Hallaj, yang kesohor dengan sebutan al-Hallaj, sufi Persia lahir pada 26 Maret 866M. Konsep wahdatul wujud itu bersumber dan berkembang dari tradisi pemikiran Islam Persia.
Kemudian . Di Indonesia tokoh-tokohnya; Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdurrauf Singkel, Yusuf Al-Makasari, Abdul Muhyi Pamijahan, Muhammad Nafis Al-Banjari, Abdusshamad Al-Falimbani, Muhammad Arsyad Al-Banjari, Ronggowarsito, Haji Hasan Mustafa, Syekh Siti Jenar, dan lain-lain.
Sementara disebutkan bahwa Sayid Jamaluddin Kubra Al-Husein adalah kakek dari Wali songo di tanah Jawa, yang kelahiran Samarkhand, Persia datang ke tanah bugis, Tosora-Wajo (lihat, Martin Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning dan Pesantren, 1995, Mizan-Bandung.). Ada pun tahun kedatangannya banyak versi, tapi umumnya menyebutkan seputar tahun 1300-an.
Bandingkan dengan kedatangan Datuk Ribandang, Daruk Patimang, dan Datuk Ditiro yang disebut-sebut penyebar Islam di Tanah Bugis-Makassar kedatangannya sekitra tahun 1600. Ada 300 tahun jarak diantara mereka. Dihubungkan dengan kata waju dalam bahasa bugis berasal dari kosa kata Persia (Lihat; Christian Pelras; Manusia Bugis), juga penamaan Belawa dari unsur ‘ba’ dan ‘alawi’ yang berarti bersama keluarga nabi (hasil wawancara penulis dengan Ustad Nasir Taraweh dan Ustad Ambo Tang).
Dengan pemaparan diatas maka sebagai kesimpulan bahwa yang mengajarkan konsep Assikalaibineng adalah muslim dari negri Persia.***

Tribun Timur | Jumat, 23 Januari 2009 | 01:12 WITA

Buku Assikalaibineng bukalah Herry Potter. Penulisnya pun bukan JK Rowling, namun Muhlias Hadrawi, seorang pria Bugis yang baru saja merampungkan pendidikan magisternya (S2) di Universitas Indonesia (UI).

Namun buku yang mengulas persetubuhan cara Bugis ini mampu “menyihir”.  Heboh buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis juga berimbas ke Toko Buku Gramedia Panakkukang, Makassar, Kamis (22/1).
“Luar biasa. Kami baru buka toko, dalam 30 menit pertama, sudah laris 10 buku,. Hingga pukul 13.00 wita, sudah 20 buku yang terjual,” kata Store Manager Toko Buku Gramedia Yohannes Beda kepada Tribun. (more…)

Segera Terbit:

http://i78.photobucket.com/albums/j84/soeroen/PenerbitIninnawa.jpg

Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan

Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan
Roger Tol, Kees van Dijk, dan G Acciaioli (ed.)
Ininnawa & KITLV Jakarta
Februari 2009
vii + 376 halaman

Beragam citra dan stereotip yang tersebar luas ditujukan untuk orang Bugis, Makassar, juga suku-suku lain di Sulawesi Selatan, dan banyak di antaranya yang berlawanan satu sama lain. Penduduk Sulawesi Selatan dilukiskan sebagai pelaut yang berani, perantau yang lihai, bangsawan feodal dan para pengikutnya, penganut paham kebebasan demokratis yang hanya mengakui pemerintahan yang dibentuk berdasarkan kontrak sosial, pemeluk agama Islam yang fanatik, pemuja benda-benda pusaka kerajaan tradisional dan pelaksana upacara-upacara ritual bagi para leluhur dan dewa yang turun ke bumi. (more…)

Aslan Abidin|Bahaya Laten Malam Pengantin|Makassar; Penerbit Ininnawa, Juni 2008|114+xv hlm;

Di tengah banjir karya yang merayakan seksualitas sekadar untuk sensasi, bagi saya puisi-puisi Aslan Abidin terasa sangat menyegarkan. Berbeda dengan kebanyakan karya sastra lain maupun bacaan populer di Indonesia, karya Aslan tidak menyampaikan nilai moral tunggal, entah pesan bahwa seksualitas harus dibebaskan, atau sebaliknya harus dikekang. Dalam puisi Aslan, seksualitas dipersoalkan sebagai salah satu kekuatan dasar kehidupan manusia yang berpengaruh bukan hanya dalam percintaan dan hubungan intim, tapi juga misalnya di ranah pendidikan, politik, dan bahkan agama sekalipun.

Bahwa tidak ada pesan moral yang tunggal dalam puisi Aslan bukan berarti tidak ada sikap kritis, juga tidak berarti bahwa moral tidak menjadi persoalan. Pluralitas nilai moral dan perilaku seksual yang ada dalam masyarakat ditanggapi tanpa merepresi segala ambiguitas dan rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh pluralitas itu. Misalnya dalam puisi “Homme Statue” konstruksi gender yang dominan dicairkan lewat dialog mengenai sebuah patung pemain sepak bola (imaji laki-laki yang mainstream) yang ternyata mirip waria. Tapi pada waktu yang sama pilihan-kata pada bait terakhir puisi tersebut, yang menceritakan bagaimana seorang waria “menawarkan duburnya untuk mencekik kemaluan kami”, mengekspresikan rasa tidak nyaman sang aku-liris menghadapi orang dengan orientasi seksual yang berbeda. Dengan kata lain, representasi seksualitas dan imaji gender dalam puisi Aslan bersifat kritis, tapi tidak menjadi “sok toleran” atau “sok terbuka”.
(Katrin Bandel, kritikus sastra)

Untaian sajak Aslan yang dibuat sepanjang 13 tahun ini, mungkin terasa bagai gulungan benang gelasan: tajam, lengket, meliuk. Di ujung gelasan yang tak selalu halus dan bisa jenaka itu, layangan-sobek-kemanusiaan bergelut resah menahan deru angin-buruk-sejarah.
(Nirwan A Arsuka, budayawan)

Ciri puisi Aslan: dia berterus-terang. Ia ingin mengejutkan para hadiran dan pembaca-pembaca. Dia mau merebut perhatian penuh kita!
(Ian Campbell, Periset Keindonesiaan)

Saya bertemu Aslan Abidin lewat sajaknya di sebuah surat kabar mingguan. Sajak itu “Lirisme Buah Apel yang Jatuh ke Bumi” langsung saya sukai, beberapa kali saya bacakan untuk istri saya, juga di panggung resitasi puisi. Sajak itu menunjukkan keterampilan Aslan sebagai penyair mengolah kisah masyhur Newton yang dijatuhi buah apel lantas ia terpercik gagasan merumuskan teori gravitasi. Di tangannya kisah itu setara dengan legenda, hikayat, atau dongeng, yang sudah sering digarap oleh penyair lain. Aslan lalu menggabungkannya dengan melankolia percintaan, dan hasilnya adalah sebuah sajak liris yang unik dan sangat manis. Nyaris tidak pernah ada penyair Indonesia lain yang masuk dan berhasil bermain-main dengan asyik di wilayah itu. Keasyikan yang sama dengan kadar yang berbeda saya temukan juga pada sajak lain di buku ini.

Hasan Aspahani, penyair cum wartawan, pengelola blog Sejuta Puisi
(www.sejuta-puisi.blogspot.com)

| Syair Perang Mengkasar| Penerbit Ininnawa – KITLV Jakarta| C. Skinner (Editor) | 2008 | vi + 248 halaman |
Kitab ini berisi reportase sastrawi bergaya Melayu yang ditulis Enci’ Amin, Jurutulis Raja Gowa Sultan Hasanuddin, tak lama setelah berakhirnya Perang Makassar.
Karya ini dengan lancar dan penuh detail menuturkan kejadian-kejadian di sekitar perang yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan salah satu kerajaan terbesar di abad XVII, Kerajaan Gowa.
Karya sastra ini dilengkapi pengantar dan catatan komprehensif yang sangat membantu pembaca memahami konteks dan tokoh-tokoh historis yang ada di dalamnya.

catatan diskusi buku Setapak Salirang
(Aslan Abidin)

Salah satu bagian terpenting dalam proses perkembangan kebudayaan adalah masa produksi. Masa ini misalnya dengan melakukan pelatihan penulisan, membuat karya tulis dalam pelatihan itu, kemudian menerbitkan tulisan dalam bentuk majalah atau buku.
Ketika contoh produksi yang dipilih adalah produk tulisan atau ‘teks’ seperti di atas, maka menurut Richard Johnson, seorang pemikir cultural studies, masa selanjutnya adalah konsumsi. Sekali lagi, dalam contoh di atas, konsumsi berarti pencerapan atau pembacaan ‘teks’.
Dalam pelatihan penulisan, penulisan, sampai penerbitan, yang menjadi sebab musabab lainnya buku antologi cerpen Setapak Salirang yang kita bicarakan ini, pembacaan kemudian juga sekaligus menjadi cermin baru bagi pembaca terkini Sulawesi Selatan (Sulsel). Tema seragam seputar budaya Sulsel menjadi semacam sudut pandang baru dalam memandang budaya masyarakat Sulsel.
Cara pandang dan pengungkapan banyak ilmuwan atas budaya Sulsel, terutama Bugis dan Makassar, yang sebelumnya lebih narsistik-utopis, kini mendapat “gaya” penuturan berbeda dengan menggunakan nalar puitik. Kecenderungan sastra sebagai karya seni, ditambah peluang besarnya untuk melakukan dekonstruksi, sangat dapat diharapkan untuk “memberontaki” dan menawarkan pandangan yang lebih jujur atas budaya-budaya di Sulsel.
Cerpen, yang seringkali baru bernilai bila memiliki plot yang kuat, sangat dapat diharapkan dapat mengangkat kisah-kisah “sebenar”-nya, yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan di balik kisah-kisah besar yang  narsistik-utopis budaya Sulsel. Ketimpangan antara mitos besar tentang orang Sulsel dahulu yang beradab, dengan watak-perilaku orang Sulsel sekarang yang buruknya dengan kebanyakan orang Indonesia, merupakan wilayah yang dapat digarap sastra secara lebih terus terang.
Sebab, salah satu bencana terbesar yang mengancam kebudayaan Sulsel untuk jatuh lebih parah adalah nafsu besar yang terus-menerus menyembunyikan fakta keburukan diri dan masyarakat sendiri. Berulang-ulang sakau menikmati narsisme budaya sendiri, juga dapat berarti mengubah budaya itu menjadi palsu dan sloganistik. Slogan itu kemudian dengan enteng dipoles oleh politisi menjadi jargon kampanye politik.

2 | Generasi tersekolahkan Sulsel adalah orang-orang yang diserahkan oleh orangtuanya kepada guru untuk mendapat didikan modern. Ini berarti bahwa orangtua, sedikit atau banyak, menyerahkan anaknya untuk mendapatkan tradisi atau didikan baru di sekolah, yang bukan didikan tradisi nenek moyangnya.
Sekolah kemudian mengajarkan bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang berbeda dengan bahasa orangtuanya. Selama puluhan tahun di sekolah, hingga lancar berbahasa Indonesia dan malu berbahasa Bugis atau Makassar, si anak didik, sedikit atau banyak, akan tidak lagi mengenali budayanya sendiri.
Budayanya itu, setelah semakin jauh tertinggal, sesuai tradisi sekolahannya, akan dikemas orang-orang berpendidikan serupa sosiolog atau antropolog asing ke dalam bentuk buku. Buku-buu itulah kemudian yang akan dibaca dan menjadi guru tradisi sekaligus cara anak didik mengenal kebudayaannya.
Masalah yang melingkupi kebanyakan masyarakat dan peserta didik Sulsel selama ini adalah masih kurang dan mahalnya buku-buku untuk mengenal budaya Sulsel. Tetapi lima tahun belakangan, mesik cetak memungkinkan buku-buku tentang  Sulsel menjadi banyak dan murah.
Generasi terdidik Sulsel kemudian dapat mengenali secara detail apa yang samar-samar ia dengar dan lihat di masyarakatnya. Bissu, gurenceng, parakang, walasuji, dan banyak istilah tradisi Bugis yang digunakan para penulis Setapak Salirang, sangat boleh jadi mereka dapatkan dari tradisi sekolahan, bukan dari tradisi Bugis di masyarakatnya.
Masalah selanjutnya adalah ‘teks’ yang telah diproduksi oleh para penulis ini. Setelah mereka mereproduksi budayanya ke dalam bentuk tulisan, menurut Richard Johnson, bagian yang sering dilupakan kemudian adalah pembacaan, termasuk untuk mengetahui pengaruh teks tersebut atas masyarakat.
Selain dari persoalan di atas, cerpenis di Setapak Salirang setidaknya melewati sebuah proses men-cerpenis yang lebih modern dari penulis cerpen kebanyakan di Indonesia. Penulis ini menulis cerpen dan langsung dibukukan. Berbeda dengan umumnya cerpenis di Indonesia yang memulai menulis cerpen di koran, kemudian dibukukan.

*Aslan Abidin, peminat sastra.

Judul: Hujan Rintih-rintih
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: Ininnawa, Makassar
Cetakan Pertama, Januari 2005

AKU sedang dan selalu menunggu di rumah bersalin puisi, tempat yang cemas dan nyaman menunggu harapan—rumah sakit yang kubangun lama dengan cinta, dengan rindu—ketika sebuah buku datang, mengandung 45 puisi, dan setelah itu aku harus segera ke kantor catatan sipil membuat akte kelahiran, di mataku lahirlah engkau: Penyair M Aan Mansyur. Kelahiran yang sebenarnya telah lama diramalkan. Aku seperti mengikutinya sejak datang bulan terakhir perempuan yang mengandungnya.

SEBUAH buku datang, membawa 45 puisimu. Aku percaya kau telah mengandungnya cukup bulan. Kau adalah penyetubuh yang jantan. Kau punya sperma kata-kata yang sehat dan lincah gerak.

Jika tidak, bagaimanakah bisa kau peranakkan:

kecemasan sebagai hujan rintih-rintih

cuaca selalu datang sepanas pemilu sejak subuh

gerimis tumbuh menderas,
kami tersesat di hutan-hutan hujan
mencari ’tidak’, entah sampai kapan.

seorang yang tak melihat di bawah cahaya,
akan membunuh segala yang silau.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak nyaman hanya melihat usaran arus di muara. Ia adalah orang

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang membuat panggung dari puisinya lalu di panggung itu kalimat-kalimat menari, kata-kata riang berbunyi, bahkan kata yang tak paling pemalu pun tergoda untuk ikut – setidaknya mengetukkan kaki.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak pernah melepaskan badik dari tangan. Badik itu adalah puisi. Badik itu adalah tongkat sihir yang mengubah setiap apa yang ia tikam berubah menjadi puisi, badik itu adalah tongkat komando yang dipatuhi oleh apa pun yang ia tuding dengan perintah. Badik itu juga adalah setangkai mawar yang meluluhkan hati apa pun yang ia rayu cukup dengan sebuah sodoran lembut, bahkan juga meluluhkan hatinya sendiri. Badik itu pula yang ia tikamkan tepat ke pusat jantungnya sendiri. Lalu ia berkata, “beginilah aku memelihara tajamnya…”

PUISIMU, Aan akhirnya di tangan pembaca yang gatal bermain, menjelma bagai plastisin. Ia bisa dibentuk jadi apa saja. Ia menawarkan permainan yang riang. Aku membayangkan sebuah bis pariwisata. Pemandu tur yang jenaka.

bis tiba-tiba berhenti,
tetapi ketika kau ingin turun tiba-tiba berjalan kembali
dan kau harus duduk lagi melanjutkan mengunyah bubblegum

siapa yang mengirim begitu banyak tiba-tiba pada
perjalanan ini, …..

AKU suka tiba-tibamu, tiba-tiba saja. Kelak di buku-buku sajakmu berikutnya, kirimilah aku tiba-tiba sebanyak-banyaknya. Ya, tiba-tiba saja, aku semakin curiga, kau sedang bersiasat menyusun sekian banyak tiba-tiba.

Resensi buku ini juga bisa dibaca di www.sejuta-puisi.blogspot.com

Next Page »